Rabu, 24 April 2013

CONTOH LAPORAN HASIL WAWANCARA DAN LIST PERTANYAAN WAWANCARA


Daftar Isi
Lembar Pengesahan……………………………………………………..4
Lembar Persembahan……………………………………………………5
Bab 1 Pendahuluan
a.     Latar Belakang………………………………………………….....6
b.     Maksud dan Tujuan……………………………………………….7
Bab 2 Pembahasan
a.     Biodata narasumber……………………………………………….8
b.     Tempat dan waktu pelaksanaan…………………………………...9
c.     Daftar Pertanyaan dan jawaban ..…………………………..……10
Bab 3 Isi
          Hasil Wawacara……………………….…………………………15
Bab 4 Penutup
          Bukti……………………………………………………………..21









PENGESAHAN


LAPORAN HASIL WAWANCARA
Di Sumberan Barat, Wonosobo dengan Dinta Candra Pri Ardhanariswari. S,Pd.
Tanggal 3 April 2013








         

Dinta Candra P.A S,Pd
Motto dan Persembahan

Motto :
1.    Tidak ada kata menyerah sebelum bertanding
2.    Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali
3.    Keberhasilan tidak dating secara tiba-tiba tapi karena usaha dan kerja keras


Persembahan :

Laporan ini kami persembahkan kepada :
1.    Tuhan YME yang telah melancarkan dalam pembuatan laporan ini.
2.    Bu Yosepin selaku pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia.
3.    Bu Dinta selaku narasumber.
4.    Semua pihak yang bersangkutan dalam permbuatan laporan ini.
5.    Teman-teman di SMA 1 Wonosobo









Bab.1 Pendahuluan
Latar Belakang
Motivasi merupakan suatu dorongan dimana seseorang ingin meraih suatu prestasi yang lebih baik lagi dari yang dia raih saat ini. Seseorang yang mempunyai motivasi yang tinggi biasanya akan lebih berhasil dalam menjalani hidupnya dimasa yang akan datang. Meniti karier dari bawah merupakan salah satu bentuk perjuangan yang patut dicontoh oleh generasi muda karena pada kenyataannya banyak generasi muda yang tidak mau meniti karier dari bawah tapi langsung bermimpi menduduki suatu jabatan yang tinggi.
          Dijaman ini banyak siswa yang menganggap sepele gurunya bahkan bersikap acuh tak acuh. Siswa menganggap guru itu hanya sebuah guru bukan menjadikan teman yang bisa diajak share dan berbagi. Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, karena guru mengajarkan sesuatu tanpa meminta imbalan.









Tujuan
Tujuan disusunnya makalah ini adalah :
1.     Mengetahui seberapa besar perjuangan seseorang menjadi guru dan dapat menghargainya.
2.     Untuk membangkitkan motivasi generasi muda agar mempunyai cita-cita yang positif dan memiliki masa depan yang lebih baik.
3.     Untuk meningkatkan kepedulian social dan budaya generasi muda.
   4. Memenuhi tugas Bahasa Indonesia.













Bab.2 Pembahasan
Biodata narasumber

Nama Lengkap                                   : Dinta Candra Pri Ardhanariswari.
Nama Panggilan                                  : Dinta, Ichan.
Tempat Tanggal Lahir                         : Tegal, 15 Mei 1987
Agama                                               : Islam
Tempat Tinggal                                  : Sumberan Barat RT 02 RW 01Wonosobo
Riwayat Pendidikan                            :
1.     TK Tunas Rimba Bumi Jawa
(1992-1993)
2.     SD N 1 Bumi Jawa
(1993-1999)
3.     SMP N 1 Bumi jawa
(1999-2002)
4.     SMA N 1 Slawi
(2002-2005)
5.     Pendidikan Bahasa Jepang UNNES
(2005-2009)





                                                                                       Dinta Candra P.A S,P.d

Waktu dan Tempat Pelaksana
                                                       

Tempat       : Sumberan Barat RT 02 RW 01 Wonosobo,Jawa Tengah
Tanggal      : Rabu, 3 April 2013
Pukul         : 17:00 WIB















Pertanyaan dan Jawaban
P : Maaf, boleh tau nama lengkap Ibu?
J : Nama lengkap saya Dinta Candra Pri Ardhanariswari, sering dipanggil Ichan        kalau dirumah, kalau disekolah dipanggilnya Dinta.
P : Ibu lahir dimana dan tanggal berapa?
J : Lahir di Tegal tanggal 15 Mei tahun 1987.
P : Dulu cita-cita Ibu ingin jadi apa?
J : Cita-cita itu kan selalu berubah ya, jadi dari SD SMP sampai SMA saya ingin jadi presenter berita di TV.
P: Kemauan Ibu menjadi guru, kemauan sendiri atau orangtua?
J :  Kemauan dari diri saya sendiri, tapi saya melihat background orangtua saya.                  Karena kebetulan ke dua orangtua saya itu guru, saya lihat itu memang sih secara financial tahu keseluruhannya tapi dilihat dari material itu sedikit. Namun, banyak juga aspek yang diuntungkan contohnya saja orang-orang yang berprofesi sebagai guru dapat berwirausaha. Pagi bisa bekerja siangnya bisa melakukan hal yang lain seperti berdagang, usaha yang lain. Kalau anak libur ibunya juga libur jadi bisa berlibur bersama waktu bersama keluarga juga bermanfaat. Bila dilihat keluarga yang lain yang salah satu orangtuanya swasta susah berlibur bersama kemudian saya lihat lagi perempuan kalau sudah berkeluarga lebih enjoy lebih enak kalau profesinya sebagai guru karena termasuk pekerjaan ringan. Repotnya lagi kalau sudah punya anak kecil jadi waktunya cukup tersita.
P:  Boleh kami tahu riwayat pendidikan Ibu?
J :   Ya boleh, saya TK sampai SMA di Tegal. TK di TK Tunas Rimba Bumijawa dan lulus pada tahun 1993, kemudian melanjutkan di SD N 1 Bumijawa dan lulus pada tahun 1999, selanjutnya saya melanjutkan di SMPN 1 Bumijawa dan lulus pada tahun 2002,  kemudian beliau melanjutkan di SMAN 1 Slawi dan lulus pada tahun 2005 dan saya melanjutkan pendidikan Bahasa Jepang di UNNES. Kebetulan Bumijawa itu terdapat di pegunungan seperti Wonosobo ini. Kan di Tegal ada 2 wilayah kalau di kota itu bagian pesisir dan kabupatennya pegunungan jadi dingin seperti Wonosobo.
P : Mengapa Ibu memilih pendidikan Bahasa Jepang?
J : Nah jadi saya terpicu oleh salah satu keluarga saya yang terdapat di Surabaya. Kebetulan konsulat Jepang itu salah satunya ada di Surabaya banyak kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bertema Jepang. Banyak kesenian yang ditampilkan sangat menarik-menarik sekali. Kemudian saya tertarik untuk belajar Bahasa Jepang seperti apa sih Jepang. Lalu saya buka informasi banyak tentang Jepang ternyata kok menarik gitu berbagai hal banyak yang mengiblat kesana seperti perdagangan, pendidikan, teknologi, mode mengacu kesana. Hal itu menyemangati saya juga untuk mempelajari dan untuk pergi kesana.
P : Berarti awalnya dari suka seni ya, Bu?
J : Ya awalnya seperti itu. Jadi saya belajar Bahasa Jepang ya benar-benar dari nol hanya di mata kuliah saja di SMA kan tidak dapat enggak seperti sekarang di SMA 2 ada, Muhy ada, Smea juga ada jadi sudah ada bekal setikdaknya tau hiragana, katakana, kanji dan ketika belajar seenggaknya sudah pernah mempelajari dan tahu sedikit kan lebih mudah.
P : Apakah ada kesulitan ketika belajar bahasa Jepang?
J : Kesulitan pasti ada ya, kalau Bahasa Jepang sendiri kesulitan di hurufnya terutama pada huruf kanji karena butuh belajar ekstra. Jadi di Jepang itu ada 3 huruf katakana,hiragana, dan kanji . Kalau hiragana itu huruf asli Jepang, sedang katakana  digunakan untuk menulis kosa kata serapan dan juga untuk menulis orang yang bukan nama orang Jepang seperti kita. Kalau huruf kanji itu aplikasinya lebih tinggi jadi dulunya menjadi symbol-simbol.Cina, Korea dan Jepang itu huruf  kanjinya sama tetapi cara bacanya yang berbeda.
J :  Apakah Ibu punya pengalaman yang mengesankan selama belajar Bahasa Jepang?
P : Pengalamannya pada saat ujian norioku sikeng atau tes toefl dalam bahasa Inggris itu setiap mau tes kita belajar kelompok kemudian pelajaran yang paling mengesankan itu nihongjunco itu seputar Jepang. Jadi diberi materi mengenai jepang kondisi geografi, struktur pemerintahannya, perekonomiannya dan lain-lain. Di pelajaran ini kami sempat membuat makanan tradisional Jepang seperti onigiri seperti nasi kepal sama okonomiyaki.
P : Suka dan duka menjadi guru menurut Ibu?
J : Kalau sukanya banyak terhibur oleh siswa, jadi kalau didalam kelas itu karakter siswa macem-macem itu yang sering menghibur. Saya tidak pernah membatasi kedekatan saya dengan siswa. Kalau susahnya sedang ngajar ada siswa yang gojek sendiri dan kalau nilai ulangannya jelek jadi kecewa. Hal itu yang membuat saya intropeksi diri apa sih kurangnya saya kok nilainya pada jelek gitu. Karena waktu dulu saya jadi murid pernah berpikiran kalau jadi guru kok enak tinggal masuk ngasih materi tapi ternyata tidak guru harus menyiapkan agenda mengajar, media pembelajaran, ulangannya mau kaya apa.
P : Sejak kapan Ibu mengajar?
J :  Saya lulus tahun 2009 dan mulai mengajar awal tahun 2010. Pertama kali ngajar di SMK Adiwerna Tegal jadi baru disitu satu tahun Desembernya menikah dan ikut suami.
P : Ibu mengajar Bahasa  Jepang atau dengan yang lain?
J : Sama IPA, karena kekurangan guru Ipa dan saya dimandati untuk mengajar kelas 10. Untung kelas 10 yang materinya bisa saya kuasai, kelas 10 kan hanya letak geografi, struktur tanah, bencana alam gitu jadi berbeda dengan SMA. Padahal kalau dilinierkan enggak pas karena SMAnya saya dulu masuk jurusan IPS. Dulu kan penjurusannya kelas 3 jadi lumayan 2 tahun dapat materi biologi dan geografi.
P : Menurut Ibu tanggung jawab terpentig menjadi seorang guru itu apa?
J : Jadi  kalau guru itu tidak sekedar mengajar tetapi juga mendidik. Contoh kecil saja ada murid yang melakukan tindakan yang kurang baik diluar sekolah pasti ditanya gurunya siapa, sekolah dimana seperti itu. Nah itu tanggung jawabnya, melatih kedisiplinan, sopan santun jadi tanggung jawab seorang guru.
P : Apa yang memotifasi Ibu sehingga menjadi seperti sekarang?
J : Yang memotifasi saya ingin menjadi yang lebih baik, karen kadang yang menurut saya baik menurut orang lain kurang baik. Kemudian berguna untuk oranglain dan jadi orang yang mau menerima apapun dari luar.
P : Selain menjadi guru, kegiatan apa yang Ibu lakukan di waktu senggang?
J : Mengelola sanggar ini, kebetulan saya dari dulu suka seni.
P : Apakah si SMK 1 Wonosobo Ibu mengampu ekstrakulikuler?
 J : Iya, ekstrakulikuler tari dan voice.
P : Impian Ibu yang belum tercapai sampai sekarang apa?
J : Pergi ke Jepang, mudah-mudahan diberikan kesempatan untuk kesana. Karena banyak peluang untuk ke sana dulu ada kesempatan tapi saya tunda karena memiliki anak kecil besok kalau sudah sedikit besar saya akan coba lagi.
P : Kesan Ibbu ketika mengajar Bahasa Jepang?
J :  Kebetulan murid saya antusias untuk mengikuti pelajaran saya, banyak juga yang menanyakan hal-hal menganai Jepang. Kadang banyak hal yang saya tidak tahu dan jadi tahu karena mereka. Hanya saja yang belum di laksanakan disini dan jadi PR juga saya ingin mengadakan festival kebudayaan Jepang. All about Jepang kecil-kecilan saja disekolah gitu.
P : Perasaan Ibu ketika mendapati murid yang tidak memperhatikan dan gojek sendiri bagaimana?
J : Kalau 1 atau 2 kali saya biarkan, tapi kalau terus-menerus mengganggu yang lain biasanya saya tegur dan saya keluarkan. Tapi saya bukan tipe guru yang sering mengeluarkan murid. Mungkin hanya 2 kali saya mengeluarkan murid selama saya mengajar di SMK 1 Wonosobo. Kadang banyak murid yang menganggap sepele gurunya kalau gitu jadi males ngajar.
P : Jika Ibu memandang Ibu sendiri apakah sudah merasa sukses?
J : Belum, masih sangat jauh dari kata sukses. Dari diri saya pribadi banyak keinginan yang belum terwujud dan masalah keluarga pengen tinggal dirumah sendiri walaupun kecil-kecilan ini kan masih tinggal sama Ibu.
P : Pengalaman Ibu dibidang seni?
J : Ibu saya dulu sering melatih paduan suara Ibu-Ibu PKK, PGRI, sering membina official lomba nyanyi dan nari juga jadi memang dari kecil sudah terbiasa. Lama-lama Ibu tahu kecenderungan saya dibidang vocal dari SD sudah terbiasa mengikuti lomba-lomba. Dulu juga pernah ikut AFI, Indonesian Idol dan sampai lolos tahapan ke-3. Saya jadi ingat dulu waktu SMP kelas 3 ada lomba keroncong terus disuruh Ibu saya ikut. Jadi saya ikut dengan diajari keroncong dan ternyata Ibu juga ikut karena tidak memandang umur waktu itu. Jadi tanding sama Ibu sendiri dan saya mendapat juara 1 dan Ibu saya 2 padahal yang ngajari Ibu saya.
P : Prestasi Ibu di bidang seni?
J : Banyak prestasi yang saya dapatkan kalau lomba-lomba tingkat kabupaten banyak sering juara 1 atau 2. Tapi yang paling tinggi itu juara 2 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kalau nyanyi banyak tapi kalau nari itu hanya SD dan SMP  juara 1 dan juara 3.
P :  Apakah Ibu ingin melanjutkan sekolah lagi?
J : Ingin sih cari beasiswa S2 ke Jepang.
P : Apa pesan Ibu buat generasi muda ?
J : Pesan saya jadilah diri sendiri, pandai-pandai menempatkan diri karena orang sering terjebak dalam kondisi yang tidak dia inginkan. Terus kalau jaman sekarang anak-anak malu mempelajari kesenian karena sering menganggap kuno. Pada protes kalau batik di claim oleh Malaysia, kebudayaan juga di claim oleh Malaysia. Mengapa harus marah? Apa yang sudah anda lakukan untuk indonesia? Jaman sekarang pakai batik aja jarang, kalau waktu hari kartini mana ada yang pakai kebaya dijaman sekarang. Tolong lah lestarikan budaya sendiri, kalau bukan kita siapa lagi.
Hasil Wawancara
Dinta Candra Pri Ardhanariswari  lahir di Tegal 15 Mei 1987. Beliau memulai pendidikan di TK Tunas Rimba Bumijawa   dan lulus pada tahun 1993, kemudian melanjutkan di SD N 1 Bumijawa dan lulus pada tahun 1999, selanjutnya melanjutkan di SMPN 1 Bumijawa dan lulus pada tahun 2002, kemudian beliau melanjutkan di SMAN 1 Slawi dan lulus pada tahun 2005. Di tahun 2005 beliau melanjutkan pendidikan S1 jurusan  Bahasa Jepang di UNNES pada tahun 2009.
Awal cita-cita beliau adalah menjadi seorang presenter. Kemudian dengan berjalannya waktu cita-cita beliau selalu berubah. Sekarang beliau berprofesi sebagai seorang guru. Menjadi seorang guru merupakan kemauan dari beliau sendiri, namun beliau terinspirasi dari orang tua. “Menjadi seorang guru merupakan kemauan diri saya sendiri, tapi saya juga melihat background dari kedua orang tua saya, karena kebetulan kedua orang tua saya guru” kata beliau. Baginya walaupun secara materi profesi sebagai guru bisa di bilang sedikit, namun banyak aspek yang di untungkan seperti yang beliau katakana “Saya lihat itu emang kalau mungkin secara financial, kan saya tahu sendiri karena orang tua saya yang menjalani ya? Secara vinancial mungkin secara materi kan bisa di bilang sedikit, tetapi banyak aspek yang di untungkan”.
 Aspek-aspek yang di untungkan menurut beliau antara lain bisa berwiraswasta, setelah mengajar siangnya ada guru-guru yang berdagang atau usaha, kemudian waktu libur bisa menghabiskan waktu bersama anak. Ketika anak libur guru juga libur jadi bisa liburan bersama. Ketika liburan bisa pergi ke rumah nenek, ke rumah saudara atau kumpul di rumah saja. Dibandingkan dengan profesi lain, bagi beliau guru lebih menguntungkan seperti yang ia katakan “Sedangkan saya lihat dengan keluarga-keluarga yang entah ayahnya atau ibunya yang bekerja di swata pada saat libur susah untuk mencari waktu untuk bareng, kemudian saya lihat lagi kalau perempuan yang sudah berkeluarga lebih enjoy lebih enak kalau profesinya sebagai guru atau mungkin pegawai negeri yang tidak dari pagi sampai malam”. Misalnya pegawai bank yang kadang-kadang kalau lembur bisa sampai malam dan tidak hanya pegawai bank saja kalau yang swasta juga bisa sampai malam kalau lagi lembur. Beliau mempertimbangkan repotnya kalau sudah punya anak kecil seperti beliau saat ini, waktu untuk keluarga jauh lebih berkurang, maka dari itu beliau memilih profesi sebagai guru, lebih khususnya guru bahasa jepang.

Bagaimana awal mula beliau tertarik bahasa jepang?? Awalnya beliau terpicu dari keluarga beliau, keluarga beliau ada yang tinggal di Surabaya, dan kebetulan konsulat jepang salah satunya ada di surabaya. “Disana banyak mahasiswa yang mengadakan kegiatan perayaan kebudayaan jepang dan saya terpicu untuk menyemangati karena banyak kesenian yang dikeluarkan dan bisa mengikuti kegiatan tersebut dengan bakat yang kita punya, awalnya hanya itu kemudian saya tertarik seperti apa sih?” kata beliau.
Kemudian beliau mulai mencari info mengenai jepang, sampai kemudian huruf dan sebagainya dan ternyata bagi beliau menarik. Banyak hal yang bisa dipelajari, dan banyak yang berkiblat kesana mulai dari sistem perdagangan, mode, dan pendidikan Jepang lah nomor 1. “Akhirnya menjadi motivasi saya untuk lebih mempelajari tentang jepang dan mungkin kesempatan untuk ke Jepang lebih besar dengan mempelajari itu tadi” kata beliau.
Beliau belajar bahasa jepang juga benar-benar dari nol pada saat kuliah saja dan belum pernah belajar sama sekali, karena di SMA beliau tidak mendapat bahasa jepang. “Kan ada sekolah yang ada bahasa jepangnya seperti sekarang di Smea ada, Muhi ada, Sma 2 ada itu kan sudah ada bekal jadi tahu hiragana, katakana, kanji ketika belajar dan sudah pernah mempelajari itu kan lebih mudah dan kalau saya tidak, jadi benar-benar dari nol” kata beliau. Dalam mempelajari itu beliau menyadari bahwa setiap materi atau setiap mempelajari apapun pasti ada kesulitanya. Kalau Bahasa Jepang sendiri kesulitan biasanya di huruf terutama huruf kanji. “Kalau hiragana dan katakana tidak begitu susah tapi kalau kanji butuh belajar ekstra” beliau menambahkan. Hiragana merupakan huruf asli bahasa jepang, katakana merupakan huruf yang di ambil dari kosa kata serapan bahasa asing dan nama-nama orang yang bukan nama orang jepang, dan ketika menulisnya menggunakan huruf katakana, kalau kanji merupakan aplikasi yang lebih tinggi dari hiragana dan katakana. Jadi dulunya merupakan simbol-simbol, misalnya bulan di simbolkan seperti apa, dahulu diadaptasi dari kanji cina kemudian di sederhanakan oleh orang Jepang. Jadi huruf kanji Jepang-Korea-Cina masih sama namun cara membacanya yang berbeda.
Pengalaman beliau pada saat belajar Jepang terpacu pada saat ujian norioku sikeng, norioku sikeng semacam test toefl kalau dalam Bahasa Inggris hanya kalau norioku sikeng ada levelnya. Setiap akan ada norioku sikeng beliau bisa belajar bersama-sama semacam balajar kelompok. Pelajaran yang paling mengesankan bagi beliau adalah nihongjijo, itu merupakan seputar mengenai jepang, dalam pelajaran itu diberi materi tentang Jepang baik kondisi fisiknya, geografisnya, kemudian infrastrukturnya, kebudayaanya dan sempat belajar masak makanan khas jepang yang sederhana, pada saat itu beliau sempat belajar membuat onigiri semacam nasi kepal dan okonomiaki.
Beliau lulus S1 pada bulan Oktober tahun 2009 dan mulai mengajar pada awal tahun 2010 di SMK 2 Adiwerna, Tegal. Kemudian pertengahan 2010 beliau menikah dan pada bulan Desember beliau ikut suami ke Wonosobo kebutulan suaminya asli Wonosobo. Awal 2011 beliau masuk ke SMK 1 Wonosobo, di SMK 1 Wonosobo beliau mengampu Bahasa Jepang kelas 12 dan IPA kelas 10 karena kekurangan guru IPA. Beliau tidak begitu mendapat kesulitan ketika harus mengajar IPA karena pelajaran IPA pernah ia dapatkan  “ Bagi saya tidak begitu ya, karena untungnya saya mengajar kelas 10, waktu saya SMA saya pernah belajar biologi dan ternyata materinya banyak kaitanya dengan geografi seperti bencana alam, gempa tsunami, struktur tanah seperti itu pernah saya pelajari jadi tidak begitu berat” kata beliau.
Menjadi seorang guru tidak semudah yang beliau bayangkan ketika beliau masih menjadi murid, yaitu hanya masuk dan menyampaikan materi saja. Tetapi  banyak hal yang perlu disiapkan, mulai dari perangkat pembelajaran, rencana pembelajaran yang seperti apa, medianya, kemudian ulangannya mau di buat seperti apa itu sebelum memulai pembelajaran perlu dipersiapkan.
Suka duka menjadi seorang guru menurut beliau. Banyak terhibur dengan siswa, seperti di dalam kelas karakter siswa bermacam-macam sehingga menjadikan hiburan, beliau juga tidak pernah membatasi kedekatan beliau dengan siswa, jadi jika beliau sedang ada masalah atau sedih kalau ketemu siswa jadi perasaan itu jadi hilang, itu sukanya dan dukanya misalnya pada saat mengajar siswanya cerita sendiri, bercanda sendiri atau nilai ulangannya jelek. Itu menjadikan beliau untuk instropeksi diri apakah cara beliau menyampaikan belum bisa di pahami atau bagaimana.

Bagi beliau menjadi guru itu tidak hanya mengajar namun juga mendidik. “Contoh kecil saja ketika siswa melakukan perlakuan yang kurang baik di luar sekolah, pasti yang jadi pertanyaan sekolahnya dimana? Gurunya siapa? Nah seperti itu” kata beliau. Sepertinya anak jaman sekarang susah untuk di atur orangtua, apalagi mendidik mental anak dari kedisiplinannya, sopan santunnya itu juga yang di tuntut pasti sekolah. Jadi guru sebagai pelaku utama yang memberikan ke siswa, jadi berat tanggung jawab sebagai seorang guru seperti itu bagi beliau.
Selalu berusaha melakukan yang lebih baik adalah motto guru Bahasa Jepang ini, kadang yang menurut beliau baik belum tentu orang lain menganggap itu baik, jadi selalu ingin menjadi lebih baik, berguna bagi orang lain dan menjadi orang yang mau menerima apapun dari luar karena itu akan memudahkan kita untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan luar.
                   Impian beliau yang belum tercapai sampai sekarang adalah pergi ke Jepang dan mengadakan festival kesenian Jepang. Seperti yang beliau katakan bahwa banyak sekali beasiswa yang ada, namun tidak beliau ambil karena sedang memiliki anak kecil. “Banyak teman seangkatan saya yang sudah pergi ke Jepang, waktu itu saya juga mengikuti tapi saya tarik kembali dan mengurungkan niat saya karena memiliki anak kecil.” Kata beliau. Beliau juga ingin mengadakan festival kesenian mengenai Jepang disekolahnya tapi dengan kondisi yang kurang memungkinkan dan waktu yang begitu oadat hal itu hanyalah rencana. Beliau menyayangkan pendidikan Bahasa Jepang disekolahnya karena hanya di berikan 1tahun saja padahal banyak lomba-lomba yang diselenggarakan bertema Jepang dan hadiahnya lumayan bisa pergi ke Jepang dan penghargaan lainnya. “Sayang kan ya, pendidikan Bahasa Jepang hanya 1 tahun padahal banyak lomba-lomba dan hadiahnya lumayan.” Beliau menambahkan
           “Perasaan saya ketika mendapati murid yang kalau sedang diajar rame sendiri itu benar-benar kecewa ya. Apasih yang kurang dalam diri saya kok sampai enggak memerhatikan.” Kata beliau menjelaskan. Beliau mempunyai prinsip kalau sedang mengajar ada yang rame, tidak memperhatikan dan gojek sendiri satu  dua kali beliau biarkan tapi kalau terus-menerus akan dikeluarkan dari kelas. “Tapi saya tidak sering mengeluarkan siswa, kebetulan banyak yang antusias mengikuti pelajaran saya.” Beliau menambahkan. Beliau pernah kehilangan motivasi mengajar karena sering digoda oleh muridnya hingga membuat jengkel. “Dulu pernah punya pengalaman seperti itu, kalau diingat lucu juga ya.” Beliau menambahkan.




          Selain menjadi seorang guru, orang yang kerap disapa Ichan ini menyibukkan diri dengan mangelola sanggar milik suaminya. Karena beliau mempunyai bekal yang cukup untung mengajarkan tari dan membantu dalam mengelola sanggar. Tidak hanya disanggar beliau aktif dalam bidang seni tetapi di sekolah yang diampunya yaitu SMK 1 Wonosbo. Beliau aktif mengampu ekstrakulikuler tari dan sering membantu mengajarkan paduan suara Smakansa Voice.
 Dari kecil Ibu beliau sering melatih paduan suara Ibu-Ibu PKK, PGRI dan juga menjadi official lomba menari dan menyanyi, jadi dari kecil beliau sudah terbiasa dengan hal itu. Dan Ibu beliau juga tahu bakat beliau itu dimana, karena beliau suka menari dan menyanyi tetapi, beliau lebih cenderung ke vocal. Kemudian beliau diarahkan ke vocal, dari kelas 4 SD sudah mulai mengikuti lomba di bidang seni, kemudian di SMP sampai SMA sering mengikuti lomba menyanyi. Dan pada awal-awal kuliah, ajang AFI (Akademi Fantasi Indonesia), Indonesian Idol pun sempat beliau ikuti. Pada saat mengikuti ajang AFI beliau lolos sampai tahap ke-3 kali. Kemudian pada semester 2 beliau mengikuti Indonesian Idol dan dari ribuan peserta beliau bisa lolos sampai pada saringan ke-4. Mengikuti ajang-ajang seperti itu merupakan pengalaman yang mengasyikkan bagi beliau.
Pada saat beliau kelas 3 SMP di Kabupaten Tegal ada lomba menyanyi keroncong dan ibu beliau menyuruh beliau untuk ikut, namun pada saat itu beliau belum bisa menyanyi keroncong kemudian beliau diajari oleh Ibunya. Pada saat Ibunya mengantar beliau untuk mendaftar, ternyata Ibunya disuruh ikut sekalian dan akhirnya Ibunya juga ikut. Tidak disangka pada saat lomba beliau berkompetisi dengan Ibunya sendiri. Beliau mendapat juara I dan Ibunya mendapat juara II. “Itu pengalaman yang paling berkesan menurut saya, padahal kan yang mengajari ibu saya. Ikut lomba bareng sama Ibu juga” kata beliau. “Jadi saya pernah ikut lomba nyanyi dangdut pernah, campursari pernah, keroncong pernah, lagu pop sering” beliau menambahkan. Lama-lama orang-orang mengetahui kelebihan beliau dibidang seni dan karena suami beliau mempunyai sanggar akhirnya beliau disuruh melatih tari.
            Prestasi beliau di bidang seni sangat banyak, antara lain Tahun 2004/2005 juara II menyanyi tunggal tingkat Propinsi Jawa Tengah itu prestasi yang tertinggi. Kalau ditingkat Kabupaten/Kota beliau sering mendapatkan juara I atau II.
            Beliau memandang dirinya sendiri belum sukses dan masih jauh sekali dari kata itu karena impian dan harapan beliau masih banyak yang belum tercapai. Beliau juga mempunyai kenginginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, namun tidak terlalu berambisi. Karena bagi beliau setiap orang mempunyai keinginan yang tiada habisnya, “Saya ingin melanjutkan pendidikan Bahasa Jepang namun tidak disini tapi di Jepang langsung, mencari beasiswa. Saya ingin melanjutkan S2 disana ” kata beliau.
Pesan beliau untuk generasi muda jaman sekarang: menjadi diri sendiri, tidak mudah terbawa arus seandainya terbawa arus pun hendaknya arus yang positif bukan arus yang negatif, pandai-pandai menempatkan diri dimanapun kita berada karena kadang orang terjebak dengan kondisi yang tidak dia inginkan, lebih mencintai dan mengembangkan tradisi dan kebudayaan karena kalau bukan generasi muda siapa lagi. “Pada protes kalau batik di claim oleh Malaysia, kebudayaan juga di claim oleh Malaysia. Mengapa harus marah? Apa yang sudah anda lakukan untuk indonesia?” Kata beliau bersemangat.
“Pakai batik,pakai kebaya aja jarang, coba hari kartini mana mau  siswa sekarang pakai kebaya?” Beliau menambahkan.
Mempelajari kebudayaan tradisional itu bukan menjadikan kita kuno, tapi juga menunjukkan ketika kita mengetahui tentang teknologi kita bisa, tapi ketika kita disuruh cerita tentang kebudayaan juga kita mampu.Seperti itulah pesan-pesan beliau.


-----------------------------------

1 komentar: